Menjaga Lisan

Siang itu, suasana sangat panas seperti suasana Riyadh saat ini, di mana suhu panasnya telah mencapai 56°C. Seorang lelaki datang menemui Salman Al farisi ra untuk meminta nasihat. Karena ia menyadari kekurangan dirinya, bahwa ia sulit mengendalikan lisannya saat marah dan kerap terjatuh pada pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan perkataan dusta. Berikut percakapannya,

Lelaki itu berkata kepada Salman, “Berilah aku nasihat!.”

“Jangan engkau berbicara sepatah katapun!.” Kata Salman.

Lelaki itu berkata, “Tiada seorangpun yang hidup di tengah-tengah manusia, mampu untuk tak berbicara dengan mereka.”

Salman berkata, “Jika terpaksa engkau harus berbicara dengan mereka, maka ucapkanlah perkataan yang baik. Atau jika tidak, lebih baik engkau diam.”

Lelaki itu berkata, “Tambahkan untukku nasihatmu!.”

Salman berkata, “Jangan engkau marah!.”

Lelaki itu berkata, “Menahan marah terkadang membuatku pingsan tak sadarkan diri.”

Salman berkata, “Jika terpaksa engkau harus marah, maka tahanlah lisan dan tanganmu!.”

Lelaki itu berkata, “Tambahkanlah nasihatmu!.”

Salman berkata, “Jangan engkau bergaul dengan manusia!.”

Lelaki itu berkata, “Apakah ada orang yang hidup (di dunia) dan ia tidak bergaul dengan orang lain?.”

Salman berkata, “Jika terpaksa engkau bergaul dengan mereka, maka jujurlah dalam pembicaraanmu dan tunaikanlah amanah!.”

Nah..Hal yang harus kita lakukan di dunia yang hanya sementara ini adalah menyadari dengan kekurangan diri sendiri dan membuka diri kepada orang lain yang dianggap mampu untuk memberikan solusi bagi perbaikan dirinya serta mendengarkan nasehatnya. Namun, jaman sekarang, sulit sekali bagi kita menyadari kekurangan yang ada pada diri kita. Yang lebih disayangkan lagi, saat orang lain memberikan informasi perihal kekurangan kita, justru kita marah dan emosi serta menuduhnya telah mencemarkan nama baik kita bahkan membalikan kekurangan itu kepada orang tersebut. Seharusnya perkataan orang lain itu benar-benar kita terima dan menjadi bahan evaluasi menuju yang lebih baik lagi bukan? Untuk apa kita hidup di sekitar orang-orang lainnya, dengan panca indera yang kita miliki untuk berkomunikasi satu sama lain, jika kita tidak menggunakannya dengan baik😀

Lisan ibarat pisau bermata dua, bila digunakan pada hal-hal yang baik maka akan mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). Namun sebaliknya, bila digunakan pada hal-hal yang buruk, kemudharatan pun akan mengiringinya. Sangat tepat untuk menggambarkan bahwa banyak bencana dan malapetaka, baik di dunia maupun di akherat, dipicu oleh lisan kita sendiri. Sungguh Allah SWT memberi kita sesuatu memiliki fungsi dan maksud tertentu juga terutama dalam hal kebaikan.

Salman Al Farisi ra menyebutkan dalam nasihatnya di atas, bahwa di antara bentuk ketergelinciran lisan adalah berbicara yang sia-sia, meluapkan amarah dan dusta dalam pembicaraan. Berbicara yang benar, lurus, berfaedah, bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain dan yang seirama dengan itu, merupakan parameter keimanan kita. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berbicara yang baik atau lebih baik diam.” Muttafaq alaih.

Abu Darda’ ra menyebutkan bahwa salah satu sifat dasar yang melekat pada diri orang yang jahil adalah; banyak berbicara yang tidak berfaedah. Orang mukmin yang mampu menguasai dirinya saat marah padahal ia sanggup untuk meluapkannya, maka ia akan mengalirkan kesejukan dan keteduhan serta kenyamanan bagi dirinya dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Untuk itu wajar, jika Nabi saw menjanjikan bidadari surga yang ia sukai. “Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk-Nya pada hari kiamat untuk memberinya pilihan bidadari mana yang ia inginkan.” H.R; Tirmidzi.

Berkata yang baik mengandung tiga muatan seperti dalam surat An Nisa; 114 yaitu; perkataan yang memerintahkan sedekah, berbuat ma’ruf (melakukan kewajiban dan yang disunnahkan serta meninggalkan yang diharamkan, syubhat dan yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya) dan mengadakan perdamaian di antara manusia.

Diam tidak berkata-kata, merupakan pilihan terakhir jika kita tak mampu melakukan ketiga hal tersebut. Lebih baik diam daripada berkata yang tidak baik dan tidak benar. Dusta, merupakan sifat kaum munafiq dan zindiq yang diwariskan kepada kita.  Nabi saw pernah mengingatkan kita, “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila dipercaya dia berkhianat.” H.R; Bukhari.

Dusta, berada di urutan pertama dari sifat munafiq sebelum ingkar janji dan mengkhianati amanah. Sebab wallahu a’lam, sifat yang kedua dan ketiga biasanya dipicu oleh sifat yang pertama, yakni; dusta.

Al Auza’i pernah berkata, “(Karakter) orang mu’min itu sedikit bicara dan banyak beramal, sedangkan (karakter) orang munafik itu banyak bicara dan sedikit amal.”

Jadi, teman-teman semuanya, lisan itu benar-benar harus kita jaga. Bisa kita melukai seseorang secara fisik dan menyisakan luka luar yang masih bisa disembuhkan. Namun, hanya dengan lisan, kita bisa melukai orang lain jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka fisik, yaitu luka hati dan batin.Ibarat hati adalah tembok, tembok yang ditancapkan oleh beribu-ribu paku, lalu saat paku-paku tersebut dicabut, menyisakan lubang-lubang di temboknya. Nah, anggap juga paku itu adalah perkataan yang tidak baik. Sungguh menyisakan banyak lubang di hati kita.
Jagalah lisan kita agar selamat di dunia dan sukses di akherat sana. Nabi saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” H.R; Bukhari dan Tirmidzi.

Yuk, kita belajar menjaga lisan. Dengan niat,sabar,dan ikhlas, insyaAllah lisan kita akan selalu terjaga. Jangan sampai amarah dan nafsu yang mengendalikan kita. Sulit itu pasti pada awalnya, karena belajar itu bertahap dan itu memang tidak yang mudah bukan? Saya pun begitu, memang sulit menjaga lisan. Hidup di sunia ini merupakan sebuah pembelajaran bagi kita. Yang penting kita tetap yakin bisa karena Allah SWT🙂

Semoga bermanfaat yaa🙂

sumber : http://inspirasiislami.com/index.php/2012/06/ketergelinciran-itu-seringkali-berawal-dari-lisan-kita/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s