Sabar dan Bersabar

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)

Sabar menurut ayat di atas adalah agar kita tetap berada di sekitar orang-orang yang selalu mengharap ridha-Nya,  sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT.

Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:
Menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah. ”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.

Nah teman-teman..

Sabar itu memang hal yang paling sulit. Menahan diri dari amarah dan emosi, hawa nafsu, perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, perkataan yang tidak baik, dan sebagainya. Ada yang bilang, “sabar itu merupakan setengah dari keimanan”. Yap,yap, setuju dengan hal itu. Dari kesabaran kita bisa melihat bagaimana keimanan kita. Jujur, saya pun masih belajar banyak tentang kesabaran. Begitu banyak hal-hal kecil yang saya lalaikan, begitu banyak kesempatan yang tidak saya ambil, begitu banyak dosa yang telah saya perbuat, sadari terlebih dahulu kesalahan kita. Keluarga saya selalu berkata, “Belajar sabar, de. Hidup ga selalu apa yang kita inginkan. Kamu boleh menyesali apa yang kamu perbuat, tapi jangan berlarut-larut. Masa lalu itu sangat jauh dari kita. Lebih baik memperbaiki diri kamu kan?”. Ini yang selalu saya ingat. Masih banyak kekurangan dalam diri saya, ke ibu, ke ayah, ke keluarga saja belum bisa memberikan yang terbaik, terlalu banyak saya mengeluh. Nah dari sini saya belajar sabar. Kalau kita tidak sabar, bisa menimbulkan penyakit dalam diri kita juga looh..

Niat untuk berubah menjadi lebih baik. Itu yang terpenting. Asal ada keinginan, kita pasti bisa. Bukan karena ita bisa, baru ingin yaa😀 Belajar dari hal kecil, biasanya, kalau saya bersabar, tarik nafas dalam-dalam dulu, diam sejenak meredakan amarah sesaat, sholat terus tadarus, nah cari kegiatan deh, belajar ikhlas pokoknya. Hehe😀 Terkadang bisa sampai ngeluarin air mata sih, karena saya merasa tidak mampu, tapi menurut saya itu wajar sebagai perempuan, asal tidak berlebihan saja.

Bagaimana kita meningkatkan kesabaran?

1. Mengkikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan sangat menunjang munculnya kesabaran kepada Allah SWT.

2. Memperbanyak tilawah (baca; membaca) al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena al-Qur’an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga dzikir kepada Allah.

3. Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.

4. Mujahadatun Nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat dan maksimal guna mengalahkan keinginan-keinginan jiwa yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, kikir, dsb.

5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti’jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat “amalan” seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya. (Lihat QS. 9 : 105)

6. Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar secara pribadi.

 

Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Jangan sampai karena ketidaksabaran kita,karena kita merasa terdzolimi bahkan kita lemparkan emosi kita kepada orang lain juga. “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…”(QS. Al-Ahqaf/ 46: 35)

Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya. Asal kita yakin dan percaya kepada-Nya. Semangat terus ya teman-teman. Sabar selalu mengahadapi sesuatu, tetap ingat kita tidak sendirian di dunia ini, terutama ada Allah SWT yang senantiasa membantu kita🙂

 

sumber : http://inspirasiislami.com/index.php/2012/01/keutamaan-sabar-dalam-islam-makna-sabar/

 

 

 

2 thoughts on “Sabar dan Bersabar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s