Bingung

Ini merupakan masa-masa saya merasa kebingungan. Kebingungan apa yang harus dilakukan. Menyesal juga udah ga ada gunanya dan saya ga ingin menyesal. Menyesal hanya membuat saya semakin tenggelam dalam kesedihan (hahaha lebay bahasanya). Tapi memang bener…Ketika saya berpikir “Kalau saja waktu itu…..” Waktu itu ga bisa dibalikin bukan? Waktu bersifat irreversible ! Maka dari itu, jauh-jauh saya buang pemikiran menyesal itu. Husshhhhh…

Tapi tetep, semua masalah ga ilang gitu aja. Saya berpikir, mungkin saya yang salah dari awal *positive thinking-menghindari menyalahkan orang lain* Mau orang lain bersikap “jahat” sama kita, satu hal yang selalu saya pikirkan “Ini semua mungkin karena banyak kesalahan yang telah saya lakukan sebelumnya, ini ganjarannya”. “Ya Allah…sekarang apa yang harus saya lakukan?” pertanyaan itu yang selalu terpikirkan oleh saya.

Eehhh..kayanya ini terlalu tiba-tiba ceritanya, pasti ga ngerti ya?

Iya, jadi teman-teman, saya sedang terlanda ketidaktenangan. Berawal dari berpisah dari seseorang yang saya masih sayangi karena “ketidakcocokan”, “ketidaksabaran”, dan istilahnya “dosa” yang dapat terjadi. Kemudian ingin diselesaikan secara baik-baik, ingin kembali, namun “hujatan” yang ia berikan membuat saya berpikir lebih baik dihentikan. Teror sms, pembajakan, kekerasan verbal, ya dan seterusnya sampai sekarang. Yang saya sayangi, kenapa dia ga bisa berubah? Bukan dia yang harus berubah, tapi sikap “itu”. Apakah doa saya masih kurang? Doa ingin yang terbaik untuk dia..kita.. Pernah terbersit dalam pikiran mengenai penyesalan tentang dia. Tapi itu semua hilang ketika saya berpikir saya memang menyayangi dia, tak perlu disesali. Namun, yang lebih sakitnya, dia selalu berkata saya ga pernah menyayangi dia. “Ya Allah..saya yang selalu dibilang buta, tak punya hati, tak punya telinga, tapi kenapa apa yang dia bilang dan saya alami berbeda 180 derajat?”

Terlalu banyak pertanyaan tentang ini, keluarga saya hanya berkata “sabar..sabar..kami tidak bisa turun, kami tidak sopan bila mendatangi keluarganya” Sungguh keluarga saya masih memikirkan ketidakenakan kepada dia, padahal mereka tau apa yang mereka terima dari kata-katanya.. Begitu juga teman-teman, “sabar..pasrah aja sama Allah”.

Setiap hari air mata keluar teruuuus, tersenyum dalam kepedihan, berdiri dalam kejatuhan, menopang tubuh ini agar terlihat tegar, mengumpulkan keberanian untuk terus berjalan di jalan-Nya, “Ya Allah..sampai kapan hujatan itu datang? sampai kapan dia mengusir saya layaknya hewan? sampai kapan doa buruk itu keluar dari mulutnya? sampai kapan saya bisa bertahan?”

Padahal, semua yg dia pikirkan tentang saya berbeda denga sebenarnya. Saya ga bisa benci dia, saya ga bisa marah besar, saya ga bisa balas kata-katanya. Saya…masih menyayangi mereka..

Semoga ini semua segera usai..

*Curhat random*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s